| a. Bhatara Siwa sumber segala. | ||||||||||||
| Dalam lontar Bhuwanakosa dikatakan bahwa semua yang ada
ini muncul dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga.
Dengan demikian maka Bhatara Siwa adalah sumber segala yang
ada, sama halnya dengan Brahman dalam Upanisad. |
||||||||||||
|
||||||||||||
Lebih jauh Bhuwanakosa menyatakan sebagai berikut : |
||||||||||||
|
||||||||||||
| b. Bhatara Siwa bersifat immanent dan trancendent. | ||||||||||||
| Ajaran Ketuhanan yang termuat dalam lontar-lontar tattwa
di atas, azasnya bersumber pada kitab-kitab Veda dan Upanisad
sebagaimana telah diuraikan di depan. Jika dalam Veda Tuhan
disebut Tat dan dalam Upanisad disebut Brahman maka dalam
lontar-lontar itu Tuhan dipanggil Bhatara Siwa Bhatara Siwa bersifat immanent dan juga trancendent. Immanent artinya bahwa beliau hadir di mana-mana, sedangkan trancendent artinya bahwa beliau mengatasi pikiran dan indriya manusia. Hal mi dengan jelas tampak dalam sloka berikut: |
||||||||||||
|
||||||||||||
|
Berdasarkan bunyi kutipan di atas dengan jelas dikatakan bahwa Bhatara Siwa meresapi segala, berarti beliau hadir pada segala, hadir di mana-mana (immanent), berarti pula ada dalam pikiran dan indriya manusia. Akan tetapi juga tak terjangkau oleh pikiran maupun indriya itu sendiri. Ini berarti bahwa beliau mengatasi pikiran dan indriya itu sendiri (trancendent). Bhatara Siwa juga bersifat berpribadi (personal) dan juga tak berpribadi (impersonal). Dalam aspeknya yang personal beliau adalah ayah (sah pita), lbu (sah matah), Saudara (sah mitra), Keluarga (sah vanduh), Guru (sah Guruh) dan sebagainya. Sedangkan dalam aspeknya yang impersonal, beliau bersifat tak terpikirkan (acintya), tak berawal. tengah dan akhir (anadi madhyantan). tak terbatas (amita). tak berbadan (agatram) dan sebagainya |
||||||||||||
| c. Bhatara Siwa adalah Esa, berada di mana-mana dengan nama-nama yang berbeda | ||||||||||||
|
Sebagaimana juga ajaran Veda dan Upanisad dengan jelas
menyatakan Tuhan itu Esa, demikianlah pula dinyatakan dalam
lontar-lontar tattwa di Bali. Perhatikanlah kutipan benkut |
||||||||||||
|
||||||||||||
Demikianlah nama-nama Bhatara Siwa yang Tunggal itu ketika berada pada panca maha bhuta, panca tan matra, manah dan ahangkara. Sedangkan nama-nama Bhatara Siwa bila berada pada penjuru dunia ini adalah sebagai berikut : |
||||||||||||
| 1. Sanghyang Iswara di Timur 2. Sanghyang Maheswara di Tenggara 3. Sanghyang Brahma di Selatan 4. Sanghyang Rudra di Barat Daya 5. Sanghyang Mahadewa di Barat 6. Sanghyang Sangkara di Barat Laut 7. Sanghyang Wisnu di Utara 8. Sanghyang Sambhu di Timur Laut 9. Sanghyang Siwa di Tengah |
||||||||||||
Kesembilan perwujudan Bhatara Siwa ini disebut Dewata Nawasanga. Sanghyang Iswara, Sanghyang Brahma, Sanghyang Mahadewa, Sanghyang Wisnu dan Sanghyang Siwa disebut Panca Dewata. Pada Dewata Nawasanga ini Bhatara Siwa berada di Tengah sebagai inti. sentrum semua dewa. sentrum semua yang ada. Selain nama-nama tersebut ada pula nama-nama Bhatara Siwa dalam aspeknya sebagai Panca Brahma. yaitu: |
||||||||||||
| 1. Sadyajata di Timur dengan wijaksara
Sa atau Sang 2. Bamadewa di Selatan dengan wijaksara Ba atau Bang 3. Tatpurusa di Barat dengan wijaksara Ta atau Tang 4. Aghora di Utara dengan wijaksara A atau Ang 5. Isana di Tengah dengan wijaksara I atau Ing. |
||||||||||||
Wijaksara-wijaksara Sa, Ba, Ta, A, I atau Sang, Bang. Tang, Ang, Ing ini disebut Panca Brahmaksara, Wijaksara ini sangat sering dipakai dalam puja-puja di Bali. Demikianlah antara lain nama-nama Bhatara Siwa yang tentunya masih banyak lagi namaNya yang lain. |
||||||||||||
Tampilkan postingan dengan label Lontar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontar. Tampilkan semua postingan
Sabtu
Ajaran Ketuhanan dalam lontar-lontar di Bali
Mengenai Lontar - lontar
| Jenis Jenis Lontar | ||||||||||||||||
|
Pokok-pokok ajaran Ketuhanan yang termuat
dalam pustaka suci Veda dan Upanisad seperti yang diuraikan
di atas ditulis kembali ke dalam lontar-lontar di Bali dengan
menggunakan aksara Bali. bahasa Sansekerta-kepulauan, bahasa
Jawa Kuna maupun bahasa Bali.
Lontar-lontar tersebut tersimpan dan terpelihara di Bali dalam jumlah yang cukup banyak, tersebar di berbagai tempat. Tempat-tempat tersebut seperti misalnya di: Gedong Kirtya Singaraja. Perpustakaan Universitas Udayana Denpasar, Perpustakaan Universitas Hindu Dharma Denpasar, Perpustakaan Universitas Dwijendra Denpasar, Kantor Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali Propinsi Bali dan lain sebagainya. Di samping itu tidak sedikit juga lontar-lontar itu tersimpan di rumah perorangan yang diwarisi secara turun-temurun, sebagai perpustakaan pribadi. Isinya memuat berbagai hal yang terkait dengan Agama dan Kebudayaan Hindu di Bali. Sebelum sampai kepada lontar-lontar sumber ajaran filsafat Ketuhanan itu sendiri maka patut pula diketahui beberapa dari lontar-lontar tersebut, di antaranya sebagai berikut :
|
||||||||||||||||
| Lontar- lontar Tattwa | ||||
|
| Lontar- lontar Tattwa | ||||
|
| Lontar- lontar Tattwa | ||||
|
| Lontar- lontar Tattwa | ||||
|
| Lontar- lontar Tattwa | ||||||||||||
|
| Lontar- lontar Tattwa | ||||||||||||
|
Langganan:
Postingan (Atom)


